JANGAN SALAH MENILAI


SangkarDinamika kehidupan saat ini telah berkembang ke arah yang semakin menjauhi nilai-nilai luhur yang diajarkan oleh Agama kita yang lurus. Adakalanya kita memandang sesuatu hal bukanlah dalam kacamata syar’i, namun atas kepentingan duniawi. Padahal bisa jadi itu adalah bentuk kebodohan, kejahiliyahan.. Padahal, tidaklah Robb kita Jalla wa ‘Ala mengutus seorang Rosululloh Muhammad shollallohu ‘alayhi wa sallam, diantaranya adalah untuk memberantas praktek-praktek jahiliyah jaman tersebut…

Contoh nyata… Kebanyakan manusia saat ini, baik itu tua maupun muda, mengganggap bahwa segala hal akan bernilai baik & mulia bila terlihat ada kemapanan, kecukupan materi, kelancaran segala urusan, dan kesehatan dalam diri orang yang akan dinilai tersebut. Sangat jamak, bila kita melihat ada seseorang yang mempunyai rumah yang bagus, ada mobil di dalamnya, dan ada perabotan mewah di dalamnya, maka dengan mudahnya kita menganggap bahwa orang yang demikian ini adalah orang yang beruntung, orang yang harus dihormati. Namun sebaliknya, jika kita melihat ada seseorang tinggal di gubuk reyot, yang tiada lantai/ubin di dalamnya, dan tidak ada perabotan sama sekali di dalamnya.. Maka dengan mudahnya kita menganggap bahwa orang itu adalah orang yang malang, orang yang dihinakan di dunia, yang tidak diridhoi-Nya & pantas dikesampingkan.

Padahal, tahukah anda??? Bahwa penilaian seperti ini merupakan penilaian orang-orang di Jaman Jahiliyyah di tanah Arab dahulu, ketika Rosululloh datang. Tak percaya? Silakan renungkan apa yang dikatakan kaum Jahiliyah saat itu dalam firman Alloh Subhaanahu wa Ta’ala di bawah ini:

Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: “Tuhanku telah memuliakanku.” Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rizkinya maka dia berkata: “Tuhanku menghinakanku.” (QS. Al Fajr: 15-16)

Ibnu Katsir rohimahumulloh mengatakan dalam tafsirnya tentang ayat ini:

Allah Ta’ala berfirman mengingkari orang yang berkeyakinan, jika Alloh meluaskan rizki kepadanya, maka hal itu untuk mengujinya. Dia meyakini bahwa hal itu dari Alloh sebagai penghormatan baginya. Padahal tidak demikian, tetapi hal itu adalah sebagai cobaan baginya. Sebagaimana yang difirmankan Alloh Ta’ala:

Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa), Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? Tidak, sebenarnya mereka tidak sadar.” (QS. Al Mu’minuun: 55-56)

Demikian juga pada sisi lain, jika Dia menguji, memberi cobaan, dan mempersempit rizki, maka dia berkeyakinan bahwa hal tersebut sebagai penghinaan baginya dari Alloh. Alloh berfirman (ayat 17 QS. Al Fajr): “Sekali-kali tidak”. Artinya, masalahnya tidak seperti yang disangka, tidak dalam hal ini maupun hal lainnya. Sebab Alloh Ta’ala memberikan harta kepada orang yang Dia cintai maupun yang tidak Dia cintai. Sesungguhnya yang menjadi poros dalam hal tersebut ada pada keta’atan kepada Alloh pada masing-masing keadaan, di mana jika dia seorang yang kaya, maka dia akan bersyukur kepada Alloh atas keadaan tersebut dan jika dia seorang yang miskin, maka dia akan senantiasa bersabar.

Demikian penjelasan Ibnu Katsir untuk Tafsir 2 ayat QS. Al Fajr di atas….

Kalau ada orang hidupnya senang, makmur, kaya, berarti diridhoi Alloh. Sebaliknya jika ada orang yang susah, sakit miskin, maka berarti orang tersebut dibenci Alloh. Padahal bukan demikian adanya.. Ridho Alloh, kecintaan Alloh pada seorang hamba, kemuliaan seorang hamba adalah karena ketaqwaan..

Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu” (QS. Al Hujurot: 13)

Maka, dunia ini bukan penilaian… Senang ndak senang, susah ndak susah, makmur ndak makmur… Maka itu bukan penilaian. Itulah yang menjadi penilaian orang jahiliyah. Mereka itu menilai kebenaran, ridhonya Alloh dan bencinya Alloh dengan dunia.. Padahal yang demikian itu adalah salah.

Jadi… Masih menilai seseorang berdasarkan kesenangan & harta yang ada pada dirinya?? Jangan salah menilai ya… ^^


Pustaka:

1.Tafsir Ibnu Katsir Jilid 10, Pustaka Imam Syafi’i, Jakarta (2008)

2.SMS Tadabbur Al Qur’an, Pustaka Elba, Surabaya (2009)

Renungan Kamis Pagi, di sebuah pojok kamar, Malang, 24 Maret 2011

Hamba yang membutuhkan maghfiroh-Nya

-Galuhsurya Abu Zahro-

Tag:, , ,

About galuhsurya

Sebanyak2nya Kemanfaatanku untuk Orang Lain...

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: