Ucapan “Andaikata”


Banyak orang yang secara “de fakto” menentang taqdir. Mereka beranggapan, bahwa andai mereka melakukan suatu hal, niscaya keadaan akan berbeda, padahal Alloh Subhaanahu wa Ta’ala telah menentukan setiap perbuatan dan hasilnya, sehingga semuanya pasti berjalan sesuai dengan kebijaksanaan-Nya.

Firman Alloh Subhaanahu wa Ta’ala:

Mereka berkata: “Andaikata ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) di sini“. (QS. Ali Imran: 154)

Dan Alloh juga berfirman:

Orang-orang yang mengatakan kepada saudara-saudaranya dan mereka tidak turut pergi berperang: “Andaikata mereka mengikuti kita, tentulah mereka tidak terbunuh“. (QS. Ali Imron: 168)

 

Ucapan “andaikata” dalam urusan yang telah terjadi pada masa lampau, tidak diperbolehkan dan diharamkan. Alasannya: Karena ucapan: “andaikata” termasuk kebiasaan orang munafiq, dan ini cukup sebagai bukti keharamannya.

 

Diriwayatkan dalam hadits shahih, dari Abu Hurairah rodhiyallohu ‘anhu, bahwa Rasulullah shollallohu ‘alayhi wa sallam bersabda:

Bersungguh-sungguhlah engkau dalam hal yang berguna bagimu. Mohonlah pertolongan kepada Allah dan jangan sekali-kali engkau bersikap lemah. Bila engkau ditimpa sesuatu, maka janganlah engkau berkata: ‘Andaikata aku melakukan (begini-begitu), niscaya akan terjadi begini begitu’. Akan tetapi katakanlah: “Qoddarulloh wama sya-a fa’al” (Alloh telah metaqdirkan dan apa yang Ia kehendaki pasti terlaksana); Karena sesungguhnya ucapan ‘andaikata’ hanya membukakan (pintu) bagi amalan (godaan) syetan (dalam diri seseorang).

Diharamkannya ucapan ini pula, dikarenakan ucapan “andaikata”, “kalaulah”, dan ucapan serupa, adalah cerminan dari penyesalan yang telah berlalu.

Adapun mengucapkan kata tersebut untuk hal-hal yang akan mendatang, maka bila hal tersebut adalah kebaikan, dengan mengharapkan pertolongan Alloh, maka dibolehkan.

Akan tetapi bila ia mengucapkannya dalam rangka menunjukkan kesombongan dan keangkuhan, maka tidak dibolehkan, karena sikap tersebut mengesankan keinginan untuk mencampuri taqdir Alloh.

 

Kandungan Pembahasan ini:

1.    Tafsir dua ayat Ayat Al Qur’an Surat Ali Imron

2.    Larangan keras dari mengucapkan “andaikata” apabila tertimpa musibah

3.    Alasan larangan ini: Karena ucapan ini membukakan pintu godaan syetan

4.    Perintah untuk berusaha keras mewujudkan hal yang bermanfaat, dengan tetap memohon pertolongan kepada Alloh.

5.    Larangan bersikap sebaliknya, yaitu lemah semangat

6.    Tuntunan untuk mengucapkan perkataan yang baik

 

Sumber: Syarah Kitab Tauhid, Disyarah oleh Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alu Syaikh, Pustaka Darul ‘Ilmi

Tag:, ,

About galuhsurya

Sebanyak2nya Kemanfaatanku untuk Orang Lain...

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: