Adab-Adab dalam Memberi Nasehat


Tanggal 20-10-2010…

Sepertinya merupakan angka cantik yang telah dipersiapkan dengan baik bagi para demonstran untuk kembali turun ke jalan. Sebagaimana kita ketahui, tanggal itu tepat persis Kepala Negara Republik Indonesia bertugas.

Media-media cetak maupun elektronik sudah mengabarkan ini jauh-jauh hari, sehingga yang belum tahu menjadi tahu, dan yang tahu semakin bersemangat untuk mencari-cari kekurangan dalam tata laksana pemerintahan Kepala Negara kita.

Dan tibalah hari itu… Mereka berkumpul di jalan-jalan, pusat kota, maupun kantor  pemerintahan. Tidaklah kita tanyakan kepada mereka yang turun ke jalan kecuali mereka akan menjawab: “Ini adalah nasehat dalam bentuk kritik yang kami sampaikan pada pemerintah.”

Maka inikah yang disebut nasehat??? Ataukah hanya sebuah kumpulan celaan???

Maka inilah tulisan saya yang pertama mengenai  nasehat. Saya mulai  artikel ini mengenai Adab-Adab dalam Memberi Nasehat.

 

ADAB-ADAB DALAM MEMBERI NASEHAT

Setiap orang yang ingin memberi nasehat, pastilah ingin agar nasehatnya bisa lebih diterima oleh orang yang dinasehatinya. Padahal kebanyakan dari kita belum tahu bagaimanakah adab dalam member nasehat. Maka ikutilah uraiannya di bawah ini:

1. Ikhlaskan niat

Semata-mata untuk mengharapakan wajah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena yang demikian ini berarti pemberi nasehat akan mendapatkan ganjaran dari Allah Jalla wa ‘Ala, sehingga Allah pun akan membantu engkau agar orang yang dinasehati diberikan hidayah oleh-Nya.

2. Menasehati Secara Rahasia

Ini adalah adab yang kebanyakan dari kita tidaklah mengetahuinya. Perhatikanlah, bahwa penerima nasehat adalah orang yang sangat butuh untuk ditutupi segala keburukannya, dan diperbaiki kekurangan-kekurangannya. Maka, tidaklah nasehat akan mudah diterima bila disampaikan secara rahasia.

Nasehat yang disampaikan di keramaian, sesungguhnya telah membantu setan untuk mencelakakan saudaranya. Yakni dengan mengumbar aib, kejelekan dan sifat-sifat buruknya di hadapan orang banyak. Maka perhatikanlah keadaan ini, bagaimana penerima nasehat akan menerima akan menerima nasehat anda, ketika itu penerima nasehat malah sibuk memikirkan bagaimana menangkis dan menangkal aib-aib dirinya yang telah diumbar oleh anda, dan tidak lagi memikirkan nasehat yang anda berikan.

Imam Abu Hatim bin Hibban Al Busti rahimahumullah berkata: “Namun nasehat tidaklah wajib diberikan kecuali dengan cara rahasia. Karena orang yang menasehati saudaranya secara terang-terangan pada sejatinya ia telah memperburuknya (keadaan penerima nasehat). Barangsiapa yang memberi nasehat secara rahasia, maka dia telah menghiasinya. Maka menyampaikan sesuatu kepada seseorang muslim dengan cara menghiasinya, lebih utama daripada bermaksud untuk memburukkannya”. (Raudhatul Uqala’, hlm 196)

3. Memberi nasehat dengan Halus, Penuh Adab dan Lemah Lembut.

Hal ini dikarenakan memberi nasehat ibaratnya seperti membuka pintu. Sedangkan sebuah pintu tidak akan bisa dibuka kecuali dengan kunci yang pas & tepat. Maka pintu itu adalah hati, dan kuncinya adalah nasehat yang disampaikan dengan lemah lembut, santun, dan halus. Ini sesuai dengan sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wa sallam:

Sesungguhnya kelemahlembutan tidaklah berada dalam sesuatu kecuali menghiasinya. Dan tidaklah terpisah dari sesuatu kecuali ia perburuk.” (HR. Muslim)

4. Tidak Memaksa

Orang yang menasehati tidaklah berhak sama sekali untuk menerima nasehatnya. Karena pemberi nasehat adalah seseorang yang membimbing menuju kebaikan. Sehingga hak pemberi nasehat hanyalah menyampaikan dan memberi arahan saja.

Seseorang yang meminta nasehatnya untuk ditaati dan diterima, maka ini hanyalah hak seorang penguasa atas rakyatnya. Jika seluruh pemberi nasehat seprti ini, maka niscaya semua masyarakat akan menjadi pemimpin. Lantas, siapakah yang akan menjadi rakyat??

5. Memilih Waktu yang Tepat untuk Memberi Nasehat

Ibnu Mas’ud rodhiyallohu’anhu berkata:

Hati itu memiliki rasa suka dan keterbukaan. Hati juga memiliki kemalasan dan penolakan. Maka raihlah ketika ia suka dan menerima. Dan tinggalkanlah ia ketika ia malas dan menolak.” (Al –Adab Asy-Syar’iyyah, karya Ibnu Muflih)

Bersambung InsyaAllah……

Selesai ditulis pukul 07.15 wib, Malang 221010

 

Pustaka:

Seluruh Pembahasan di atas, disarikan dengan sedikit perubahan dari Buku berjudul: “Selembut Perkataan Nabimu – Kiat agar Nasihat Laksana Embun Yang Menyejukkan”, karya Muhammad Abu Shu’ailaik. Terbitan Daar An-Naba’, Surakarta. 2007

 

Lihat pembahasan selanjutnya mengenai Perbedaan Antara Nasehat dan Celaan

Tag:, , ,

About galuhsurya

Sebanyak2nya Kemanfaatanku untuk Orang Lain...

4 responses to “Adab-Adab dalam Memberi Nasehat”

  1. adetruna says :

    jadi teringat sabda Rasulullah Saw. Agama adalah nasihat…sampaikanlah dari (haditsku) walau 1 ayat.
    ==salam kenal==

  2. galuhsurya says :

    Yup, betul itu…

    -Salam kenal juga-

    Terima kasih kunjungannya…

Trackbacks / Pingbacks

  1. Perbedaan Antara Nasehat dan Celaan « Semoga Bermanfaat.. - Oktober 22, 2010
  2. Adab Memberi Nasehat | TMSI - Mei 2, 2013

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: