Arsip | Renungan Kecil RSS for this section

Kisah Nyata : Renungan Bagi Wanita Karir

Di bawah ini adalah salah satu contoh tragis.

Sering kali orang tidak mensyukuri apa yang diMILIKInya sampai akhirnya ……

——— [] ———-

Rani, sebut saja begitu namanya. Kawan kuliah ini berotak cemerlang dan memiliki idealisme tinggi. Sejak masuk kampus, sikap dan konsep dirinya sudah jelas: meraih yang terbaik, di bidang akademis maupun profesi yang akan digelutinya. ”Why not the best?” katanya selalu, mengutip seorang mantan presiden Amerika.

Baca Lanjutannya…

Kisah Nyata: Berkah Sebuah Ketaqwaan -Tak Jadi Mencuri, Dinikahkan dengan Putri Tuan Rumah yang Hendak Dicuri-

Ada seorang pemuda yang bertaqwa. Tetapi dia sangat lugu. Suatu kali dia belajar dari seorang Syaikh. Setelah lama menuntut ‘ilmu, sang syaikh menasehati dia dan teman-temannya: “Kalian tidak boleh menjadi beban orang lain. Sesungguhnya orang ‘alim yang menadahkan tangannya kepada orang-orang berharta, tak ada kebaikan dalam dirinya. Pergilah kalian semua dan bekerjalah dengan pekerjaan ayah kalian masing-masing. Sertakanlah selalu ketaqwaan kepada Alloh dalam menjalankan pekerjaan tersebut.”

Maka pergilah pemudah tadi menemui ibunya seraya bertanya: “Ibu, apakah pekerjaan yang dulu dikerjakan ayahku?” Sambil bergetar ibunya menjawab: “Ayahmu sudah meninggal. Apa urusanmu dengan pekerjaan ayahmu?” Si pemuda ini terus memaksa agar diberitahu, tetapi si ibu selalu mengelak. Namun akhirnya si ibu terpaksa angkat bicara juga, dengan nada jengkel dia berkata: “Ayahmu itu dulu seorang pencuri!!”.

Baca Lanjutannya…

Langkah-langkah Setan

Alloh Subhaanahu wa Ta’ala berfirman:

Artinya: “Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al Baqoroh: 168)

Penyebutan godaan setan dengan istilah-istilah “langkah-langkah” di sini memiliki 2 isyarat:

1. “Langkah” berarti jarak yang pendek. Begitulah setan ketika menggoda manusia. Ia memulai aksinya dengan hal-hal yang kecil-kecil -baik berupa bid’ah maupun maksiat- agar jiwa manusia menjadi akrab dengannya.

2. Kata “langkah-langkah” menunjukkan, setan tidak akan berhenti pada langkah pertama dalam perbuatan maksiat.

(Fahd Al Aiban)

**Dikutip dari buku SMS Tadabbur Al Qur’an (Prof. DR. Nashir Al Umar , DR. Umar Al Muqbil, DR. Muhammad Al-Khudhari, 2009), Pustaka Elba, Surabaya.

Kisah Seorang Pengajar Al Qur’an

Al-quran

Kisah ini disampaikan oleh seorang pengajar al-Qur’an al-Karim di salah satu masjid di Makkah Al Mukarramah. Ia berkata, ”Telah datang padaku seorang anak yang ingin mendaftarkan diri dalam halaqah”. Maka aku bertanya kepadanya, ”Apakah engkau hafal sebagian dari al-Qur’an?”. Ia berkata, ”Ya”. Aku berkata kepadanya, ”Bacakan dari juz ‘amma!” Maka kemudian ia membacanya. Aku bertanya lagi , ”Apakah kamu hafal surat Tabaarak (al-Mulk)?”. Ia menjawab, ”Ya”. Aku pun takjub dengan hafalannya di usia yang masih dini. Baca Lanjutannya…

Pentingnya Tadabbur Al Qur’an

Nabi shollallohu ‘alayhi wa sallam pernah bangun sepanjang malam dengan membaca satu ayat secara berulang-ulang sampai Shubuh. Yaitu firman Alloh Subhaanahu wa Ta’ala:

إِن تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ وَإِن تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Artinya: “Jika Engkau menyiksa mereka, Maka Sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, Maka Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al Maaidah: 118)

Oleh karena itu, Ibnul Qoyyim mengatakan:

“Apabila melewati suatu ayat (sementara Beliau membutuhkannya untuk mengobati hatinya), Beliau membacanya secara berulang-ulang kendati mencapai 100 kali dalam satu malam. Jadi, membaca satu ayat disertai dengan pemikiran dan pemahaman, lebih baik daripada membaca sampai khatam tanpa perenungan dan pemahaman, lebih bermanfaat, bagi hati, dan lebih berpotensi mendatangkan iman dan rasa manisnya Al Qur’an (Miftahu Daarissa’adah, 1/187)

 

Dikutip dari buku SMS Tadabbur Al Qur’an (Prof. DR. Nashir Al Umar , DR. Umar Al Muqbil, DR. Muhammad Al-Khudhari, 2009), Pustaka Elba, Surabaya.

Membersihkan Dosa dan Kesalahan

Heart-from-splash-water-wallpaImam Ibnul Qoyyim rohimahumulloh berkata: “Aku pernah bertanya kepada Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah tentang maksud do’a Rosululloh shollallohu ‘alayhi wa sallam:

Allohumma thohhirnii min khothooyaaya bil-maa-i watsalji wal-barod (Ya Alloh, bersihkanlah dosa-dosaku dengan air, salju, dan air dingin). (HR. Bukhari, Muslim)

Bagaimana kesalahan-kesalahan dapat dibersihkan dan dihapus dengan semua itu? Dan apa faedah pengkhususan yang dapat dipetik dari pernyataan di atas serta sabda Rosululoh di hadits lain dengan redaksi “Wal maail baaridi” yaitu air dingin”.. Padahal air panas umumnya lebih dapat membersihkan? Baca Lanjutannya…

Masih Sulit Menghentikan Kemungkaran??

Ada seorang pemuda yang sangat gandrung dengan salah satu perbuatan keji. Ia sangat sulit meninggalkannya. Sampai akhirnya Alloh Subhaanahu wa Ta’ala mengizinkan perasaan gandrungnya itu lenyap setelah ia merenungkan firman  Alloh Jalla wa ‘Ala:

Demikianlah, agar kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih.” (QS. Yusuf: 24)

Setelah membaca ayat ini, ia kembali kepada dirinya dan berkata: “Seandainya aku mau ikhlas kepada Alloh ‘Azza wa Jalla, pasti Robb-Ku akan meyelamatkan aku sebagaimana Dia menyelamatkan Yusuf ‘alayhissalam.”

Lalu, tidak lama kemudian pemuda itu menjadi juru dakwah.

 

- Dikutip dengan sedikit tambahan seperlunya, dari buku SMS Tadabbur Al Qur’an (Prof. DR. Nashir Al Umar , DR. Umar Al Muqbil, DR. Muhammad Al-Khudhari, 2009), Pustaka Elba, Surabaya. -

Tadabbur Al Qur’an: Husnudzon Pada Pilihan Alloh

Positive_thinking_from_fragmentsofabrokenmind

Tatkala Qorun amblas ditelan bumi, orang-orang yang ingin seperti dia berkata:

Kalau saja Alloh tidak melimpahkan karunia-Nya kepada kita, niscaya Dia benar-benar telah membenamkan kita ke dalam tanah.” (QS. Al Qoshosh: 82)

Padahal kemarin mereka memanjatkan do’a:

“Mudah-mudahan kita mempunyai harta seperti yang telah diberikan pada Qorun. Sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar.” (QS. Al Qoshosh: 79) Baca Lanjutannya…

%d blogger menyukai ini: